Perbandingan Karakteristik Domain .OR.ID, .SCH.ID, dan .DESA.ID
Berikut ini rangkuman perbedaan utama yang perlu dipertimbangkan saat menentukan ekstensi domain untuk lembaga lokal, baik itu organisasi non‑profit, institusi pendidikan, maupun badan pemerintahan desa.
| Aspek | .OR.ID | .SCH.ID | .DESA.ID |
|---|---|---|---|
| Target organisasi | Organisasi non‑profit, LSM, yayasan | Sekolah, perguruan tinggi, lembaga pelatihan | Pemerintahan desa, komunitas desa |
| Persyaratan verifikasi | Dokumen akta pendirian & surat izin operasional | Surat keputusan pendirian & akreditasi pendidikan | Surat keputusan kepala desa & SKPD terkait |
| Biaya registrasi (per tahun) | Rp 150.000‑250.000 | Rp 200.000‑300.000 | Rp 100.000‑180.000 |
| Durasi pendaftaran | 3‑5 hari kerja | 5‑7 hari kerja | 2‑4 hari kerja |
| Kepercayaan publik | Menunjukkan status nirlaba yang terdaftar | Menandakan institusi pendidikan resmi | Menegaskan legitimasi pemerintah desa |
Strategi pemilihan berdasarkan tipe lembaga
- Lembaga sosial atau yayasan: Pilih
.or.iduntuk menegaskan non‑profit dan mempermudah pencarian oleh donor. - Sekolah dasar hingga perguruan tinggi: Gunakan
.sch.idagar situs mudah dikenali sebagai sumber pendidikan resmi. - Pemerintahan desa atau komunitas lokal:
.desa.idmemberikan sinyal keaslian administratif dan meningkatkan kepercayaan warga.
Simulasi skenario
Contoh hipotetis 1: Sebuah LSM lingkungan hidup di Kabupaten X ingin meluncurkan portal edukasi. Dengan dokumen akta yayasan yang lengkap, domain hijau.or.id dipilih untuk menonjolkan status nirlaba.
Contoh hipotetis 2: SMA Negeri 2 di Kota Y mengajukan sman2.sch.id. Proses verifikasi melibatkan surat keputusan pendirian dan akreditasi, sehingga domain ini memperkuat citra akademik.
Contoh hipotetis 3: Pemerintah Desa Sukamaju mendaftarkan sukamaju.desa.id. Setelah mengunggah SK Kepala Desa, domain aktif dalam tiga hari, memudahkan warga mengakses layanan publik.
Dengan memahami perbedaan karakteristik di atas, lembaga lokal dapat menyesuaikan pilihan ekstensi domain yang paling relevan, meningkatkan kredibilitas online, serta mempermudah akses bagi pemangku kepentingan.
Dokumen Persyaratan Legalitas Registrasi Domain PANDI
Registrasi domain .or.id atau .sch.id melalui PANDI menuntut kelengkapan dokumen legal yang dapat diverifikasi secara elektronik. Berikut ini rincian dokumen yang wajib disiapkan, beserta format dan catatan penting untuk masing‑masing jenis lembaga.
1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemohon
- Versi digital berformat
.pdfatau.jpgdengan resolusi minimum 300 dpi. - Pastikan seluruh sisi KTP terlihat jelas, termasuk nomor identitas dan foto.
- Jika pemohon mewakili lembaga, lampirkan pula surat kuasa yang ditandatangani dengan KTP pemohon.
2. Akta Pendirian atau Perubahan Anggaran Dasar
- Dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM atau Notaris.
- Harus mencantumkan nama lengkap lembaga, tujuan, serta nomor akta.
- Upload dalam format
.pdfyang tidak diproteksi password.
3. Izin Organisasi (SIUP, NIB, atau Surat Keputusan Pemerintah Daerah)
- Untuk lembaga non‑pemerintah, sertakan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau Nomor Induk Berusaha (NIB).
- Untuk lembaga pendidikan, lampirkan Surat Keputusan (SK) Kementerian Pendidikan yang menyatakan status sekolah atau institusi pendidikan.
- Dokumen harus berlaku aktif pada saat pengajuan.
4. Surat Permohonan Resmi
- Ditulis di atas kop surat lembaga, mencantumkan nama domain yang diinginkan, alasan penggunaan, dan tanda tangan basah pejabat berwenang.
- Jika pengajuan dilakukan secara daring, sertakan pula tanda tangan digital yang terverifikasi.
Ringkasan Dokumen dalam Tabel
| Dokumen | Format | Catatan Khusus |
|---|---|---|
| KTP Pemohon | .pdf / .jpg | Resolusi ≥300 dpi, foto jelas |
| Akta Pendirian | Nomor akta & tanggal berlaku | |
| Izin Organisasi | SIUP, NIB, atau SK Pendidikan | |
| Surat Permohonan | Kop surat + tanda tangan basah/digital |
Contoh hipotetis: Lembaga “Yayasan Pendidikan Nusantara” mengajukan domain nusantara.or.id. Tim administrasi menyiapkan KTP Direktur, akta pendirian No. 123/2020, NIB 987654321, serta surat permohonan berkop resmi yang ditandatangani oleh Ketua Yayasan. Semua berkas di‑upload ke portal PANDI dalam format yang telah ditetapkan, sehingga proses verifikasi dapat selesai dalam 3–5 hari kerja.
Pengaturan DNS Record, MX Email, dan Name Server
Pengaturan DNS Record, MX Email, dan Name Server merupakan langkah penting dalam memastikan kinerja dan keamanan domain .OR.ID dan .SCH.ID. Berikut adalah penjelasan tentang cara mengatur A records, CNAME, MX records untuk email profesional, dan SSL.
Konfigurasi A Records dan CNAME
A records digunakan untuk memetakan nama domain ke alamat IP, sedangkan CNAME digunakan untuk memetakan subdomain ke nama domain lain. Contoh hipotetis, jika Anda memiliki domain contoh.or.id dan ingin memetakan subdomain blog.contoh.or.id ke server blog, Anda dapat membuat CNAME record dengan nilai blog.contoh.or.id. IN CNAME server-blog.contoh.or.id.
Pengaturan MX Records untuk Email Profesional
MX records digunakan untuk memetakan nama domain ke server email. Untuk membuat email profesional dengan domain .OR.ID atau .SCH.ID, Anda perlu mengatur MX records yang sesuai. Berikut adalah contoh pengaturan MX records:
contoh.or.id. IN MX 10 mail.contoh.or.idcontoh.or.id. IN MX 20 mail2.contoh.or.id
Pengaturan MX records ini akan memastikan bahwa email yang dikirim ke contoh.or.id akan diteruskan ke server email mail.contoh.or.id dan mail2.contoh.or.id.
Pengaturan SSL
Pengaturan SSL (Secure Sockets Layer) sangat penting untuk memastikan keamanan data yang dikirim melalui internet. Untuk mengatur SSL, Anda perlu membeli sertifikat SSL dari penyedia yang terpercaya dan menginstalnya di server Anda. Contoh hipotetis, jika Anda memiliki domain contoh.or.id dan ingin mengatur SSL, Anda dapat membeli sertifikat SSL dari penyedia seperti Let's Encrypt dan menginstalnya di server Anda.
Manajemen Perpanjangan Domain dan Keberlanjutan Kepemilikan
Pengelolaan siklus hidup domain .OR.ID dan .SCH.ID memerlukan prosedur yang terstruktur agar tidak terjadi domain expiry yang dapat mengganggu layanan institusi. Berikut langkah‑langkah praktis yang dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan TI lembaga.
1. Penetapan Kalender Perpanjangan
Setiap domain harus dicatat dalam kalender operasional dengan notifikasi minimal tiga (3) kali sebelum tanggal kedaluwarsa.
- Pengingat pertama: 90 hari sebelum masa aktif berakhir.
- Pengingat kedua: 30 hari sebelum masa aktif berakhir.
- Pengingat akhir: 7 hari sebelum masa aktif berakhir.
2. Verifikasi Kredensial Pemilik
Pastikan data kontak (email, nomor telepon) pada registrasi domain selalu up‑to‑date. Lakukan audit tahunan untuk memvalidasi identitas penanggung jawab.
3. Simulasi Skenario Perpanjangan
Contoh hipotetis: Lembaga X memiliki domain universitasx.or.id yang masa berlakunya hingga 15 April 2027. Pada 1 Maret 2027, tim TI mengaktifkan prosedur berikut:
- Mengirim email pengingat ke kepala departemen TI dan direktur akademik.
- Menyiapkan formulir persetujuan internal untuk alokasi dana perpanjangan.
- Menjalankan skrip otomatis (
renew_domain.sh) yang memeriksa status DNS dan menyiapkan invoice.
4. Tabel Ringkasan Jadwal Perpanjangan
| Domain | Tanggal Kedaluwarsa | Pengingat 1 (90 hari) | Pengingat 2 (30 hari) | Pengingat 3 (7 hari) |
|---|---|---|---|---|
| universitasx.or.id | 15 April 2027 | 15 Januari 2027 | 16 Maret 2027 | 8 April 2027 |
| sekolahx.sch.id | 30 September 2027 | 31 Juni 2027 | 31 Agustus 2027 | 23 September 2027 |
5. Dokumentasi dan Backup
Simpan semua bukti pembayaran, email konfirmasi, dan sertifikat kepemilikan dalam repositori terpusat yang dilindungi oleh kontrol akses berbasis peran (RBAC). Backup data ini harus direplikasi ke dua lokasi fisik terpisah untuk mengantisipasi kegagalan sistem.
Dengan mengimplementasikan rangkaian prosedur di atas, lembaga lokal dapat meminimalkan risiko kehilangan domain, menjaga kontinuitas layanan daring, serta memastikan kepemilikan tetap sah dan dapat dipertanggungjawabkan secara administratif.